Sejarah Kerajaan Majapahit, Berhasil Satukan Nusantara, tetapi Runtuh akibat Perang Saudara

AGN – Kerajaan Majapahit merupakan kerajaan Hindu-Buddha terakhir yang berdiri di Nusantara.

Seperti dikutip dari “Tradisi Majapahit: Histori, Monarki, dan Kultur” karya Enung Nurhayati, Majapahit didirikan setelah runtuhnya Kerajaan Singhasari yang merupakan kerajaan paling besar dan kuat di Jawa.

Adapun Kerajaan Singhasari runtuh setelah Raja Kertanegara dan pimpinan kerajaan lainnya gugur di tangan pasukan Kerajaan Kediri.

Dengan meninggalnya para pemimpin, Kerajaan Singhasari berhasil dikuasai oleh Raja Jayakatwang yang merupakan penguasa Kerajaan Kediri pada masa itu.

Setelah jatuh di bawah kekuasaan Kerajaan Kediri, salah satu keturunan Raja Kertanegara, Prabu Wijaya, berniat untuk merebut kembali tampuk kekuasaan dari Kerajaan Kediri.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.

Prabu Wijaya diketahui sebagai putra Dyah Lembu Tal, cucu Mahisa Campaka atau Narasinghamurti. Wijaya juga diketahui sebagai keturunan langsung dari Ken Arok dan Ken Dedes, pendiri Kerajaan Tumapel.

Dilansir dari “Tradisi Majapahit: Histori, Monarki, dan Kultur” karya Nino Oktarino, berdirinya Majapahit sangat berkaitan dengan ekspedisi militer Orang Mongol ke Jawa pada abad ke-14.

Sumber lain, “Majapahit Kingdom” karya Tendi Khrisna Murti, menerangkan bahwa Prabu Wijaya memanfaatkan ekspansi orang-orang Mongol ke Jawa itu untuk merebut kekuasaan dari Raja Jayakatwang.

Ia menggunakan pasukan orang-orang Mongol untuk meruntuhkan Kerajaan Kediri.

Singkat cerita, setelah keberhasilan pasukan militer Mongol menaklukkan Kerajaan Kediri, Prabu Wijaya melakukan kudeta.

Ia berhasil memukul mundur pasukan Mongol dan mengakuisisi Kerjaan Kediri sebagai Kerajaan Majapahit.

Prabu Wijaya pun dinobatkan sebagai raja pertama dari Majapahit.

Di bawah kekuasaan raja keempat, Prabu Hayam Wuruk yang didampingi Mahapatih Gajah Mada, Majapahit menjadi kerajaan yang termahsyur. 

Masa kejayaan Majapahit

Dikutip dari “Hikayat Majapahit: Kebangkitan dan Keruntuhan Kerajaan Terbesar di Nusantara”, pada masa jayanya, Majapahit memiliki 98 kerajaan bawahan.

Kerajaan-kerajaan tersebut membentang dari Sumatera hingga Papua. Kerajaan tersebut juga menguasai wilayah yang kini menjadi negara Singapura, Malaysia, Brunei, Timor Timur dan bagian selatan Filipina.

Kejayaan Majapahit ini tentu tak bisa terlepas dari peran Gajah Mada dan pasukannya.

Sebagai seorang patih, Gajah Mada memimpin pasukan Bhayangkara dengan sangat baik.

Gajah Mada disebut sebagai pemimpin yang kuat dan pandai dalam membuat strategi perang. Ia juga mampu menganalisa masalah dengan sangat baik.

Berdasarkan “Majapahit Kingdom”, pasukan Bhayangkara merupakan pasukan yang dilatih secara khusus untuk mengatasi beragam hambatan.

Pasukan berjumlah sekitar sepuluh orang ini dilatih untuk menggunakan beragam senjata. Mereka bahkan juga mampu menggunakan barang-barang biasa sebagai senjata.

Gajah Mada memiliki peranan penting dalam kejayaan Majapahit. Tokoh yang terkenal dengan Sumpah Palapa ini memiliki keinginan yang sangat kuat untuk menyatukan Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit.

Dalam Sumpah Palapa yang diucapkannya, Gajah Mada berjanji tidak akan makan dan minum sampai berhasil menyatukan Nusantara. Berkat kegigihannya, Gajah Mada berhasil menepati sumpahnya menyatukan.

Runtuhnya Majapahit

605c21d7cf101.jpg

Tim ekskavasi dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur, melakukan ekskavasi di sudut timur laut Situs Kumitir, Rabu (24/3/2021). Situs Kumitir diyakini sebagai salah satu jejak arkeologis peninggalan Kerajaan Majapahit.

Dalam “Majapahit Kingdom”, Gajah Mada yang selama ini berhasil menyatukan nusantara terpaksa dicopot jabatannya sebagai patih setelah pertempuran Majapahit dengan Kerajaan Sunda pecah.

Meski memenangkan pertempuran tersebut, Dyah Pitaloka, putri Kerajaan Sunda yang ingin dinikahi Raja Hayam Wuruk memilih bunuh diri.

Alhasil, Hayam Wuruk pun memecat Gajah Mada dan mengasingkannya di sebuah wilayah bernama Madakaripura.

Sumber : Kompas

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *