Kisah Pembudi Daya Lebah Madu Kelulut di Aceh Besar: Beromzet Rp 28 Juta Sebulan

AGN – Khairil Fattah awalnya hanya pencari madu hutan. Dia menyusuri pelosok rimba mencari sarang lebah yang punya madu untuk dibawa pulang. Namun belakangan dia sering kali pulang dengan tangan kosong. Tanpa ada madu yang bisa dipanen.

“Sehingga saya beralih ke budi daya kelulut pada 2018,” kata pria 25 tahun ini kepada acehkini, Jumat (18/6).

Langkah mula Khairil lakukan untuk budi daya kelulut yang dalam bahasa Aceh disebut ‘Linot’ adalah dengan mencari pohon berlubang di hutan yang menjadi sarang kelulut jenis terminata. Di kalangan pembudi daya kelulut, sarang awal tersebut dinamakan koloni. Khairil membawa pulang 27 koloni kelulut jenis terminata dari hutan.

upmqgwmzgdkryxif6cgl.jpg

Beserta batang pohon, koloni tersebut diangkut ke sebuah lahan yang kini menjadi tempat Khairil melakukan budi daya di Desa Lambadeuek, Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar. Dia menggunakan teknik khusus agar sukses menurunkan koloni dari pegunungan.

“Waktu membawa pulang harus malam ketika koloni sedang dalam sarang. Lalu lubang kayunya saya tutup pakai jaring,” ujar Khairil.

Selepas itu, Khairil belajar pengembangbiakan kelulut dari kenalannya di Aceh Besar hingga ke Medan, Sumatra Utara. Seiring perjalanan waktu, 27 koloni terminata yang dibudi daya Khairil menghasilkan madu. Merasa cara budi dayanya berhasil, Khairil lalu menambah koloni kelulut jenis lain setelah dua kali memanen madu jenis terminata.

Pilihan Khairil berikutnya adalah jenis itama. Memborong 20 koloni jenis ini, dia harus merogoh kocek Rp 600 ribu per koloni. Dia juga membeli 4 koloni kelulut jenis toracica. “Belinya masih di kawasan Aceh Besar. Modal awalnya sampai Rp 20 juta,” sebutnya.

g1fnwocjbl7f3mahecjy.jpg

Khairil pernah membeli koloni kelulut jenis laeviceps. Tapi untuk tipe ini tak bertahan lama di tempat budi daya Khairil. Sebab tidak sesuai dengan jenis kelulut yang lain. “Mengganggu jenis lain,” tuturnya.

Hampir tiga tahun, usaha Khairil boleh dibilang sukses. Buktinya sekarang dia memiliki 140 sarang kelulut dari tiga jenis tadi. Sarang ini hasil kembang biak dari koloni dulu. Tidak lagi dibeli dari orang lain. Sarang tersebut disebar di sejumlah titik dalam hutan. Sementara yang kini ditempatkan di kamp Khairil di Lambadeuek hanyalah koloni baru yang dipisahkan dari sarang lama.

“Ini tempat pengembangbiakan, semacam bengkellah. Dua pekan di sini baru dibawa ke hutan. Kemudian per pekan dicek, dijaga supaya tetap aman,” katanya.

Sarang yang telah dipindahkan ke hutan akan menghasilkan madu yang dapat dipanen sebulan sekali. Setelah diambil madunya, sarang tersebut dibiarkan saja di tempat semula hingga kemudian kembali menghasilkan madu. “Jadi sarang ini meski sudah diambil madu masih bisa berproduksi, asal sarang tidak rusak dan kelulutnya tidak pergi,” ujar Khairil.

Dari 140 sarang tersebut, Khairil memanen madu setiap bulan mencapai 40-50 liter. Harga jual madu tergantung jenis kelulut. Misal jenis toracica dihargai Rp 900 per liter dan jenis itama serta terminata Rp 500-600 ribu per liter.

“Kalau dihitung-hitung dapatlah uangnya Rp 28 juta sebulan,” katanya.

Sebab harga jual per liter cenderung mahal, Khairil menjual dengan harga terjangkau per botol berukuran 195 mililiter seharga Rp150 ribu. “Paling banyak yang beli madu jenis itama. Permintaan sangat banyak sampai tidak cukup barang,” ujar Khairil.

Selain dijual di tempat budi daya di Desa Lambadeuek, madu kelulut Khairil yang diberi nama Gonna Bee ini juga dijual secara daring. Dia pernah mengirimkannya ke Jakarta dan Solo. Selain bisnis, dia ingin mengembangkan usaha ini sebagai tempat edukasi bagi masyarakat mengenai lebah yang tidak menyengat ini.

Sumber : Kumparan

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *