Wartawan dan Kesalahannya

Siang itu Anton masih berbaring di tempat tidur apartemennya. Hangover kali ini amat parah. Kepalanya, terutama mata, berat bukan main. Belum lagi rasa haus berlebihan sebagai reaksi derasnya alkohol melewati kerongkongannya semalam.
Di pikiran Anton masih membekas suara Lisa yang tertawa-tawa saat bersulang, mabuk, lalu bercinta dengannya. Oh, Lisa! Anton teringat.
Tangan kiri Anton cepat-cepat meraba sisi kasur di sebelahnya, mencari-cari sekretaris yang sejak sebulan lalu menjadi teman tidurnya itu—tak ada. Yang terasa hanya basah. Dalam upayanya menyatukan pikiran yang tercerai-berai itu, Anton menerka-nerka: “Basah apa ini?”
Anton perlahan bangkit, posisinya kini duduk. Dia menengok dan tertegun: Kasur putih itu kini berwarna merah. Basah oleh darah.
Lisa ada di lantai, bermandikan darahnya sendiri.
Di tangan kanan Anton: Pisau.
Ilustrasi_Pembunuhan-nnmr6zzt5jyrx3mnf8d0.jpg
Ilustrasi “pisau berlumuran darah” oleh Muhammad Faisal Nu’man/kumparan
***
Peristiwa di atas adalah fiksi. Jika ada kesamaan nama dan sebagainya, itu tidak sengaja.
***
Oke. Katakanlah ada wartawan yang meliput peristiwa itu, lalu menulis berita “Anton diduga membunuh Lisa”.
Dan katakanlah setelah penyidikan oleh polisi dan proses persidangan digelar, belakangan diketahui bukan Anton yang membunuh Lisa—pisau di tangan Anton cuma rekayasa si pembunuh.
Apakah kerja wartawan tersebut salah?
Jawabannya: Tidak.
Setidaknya begitu kata Arif Zulkifli, yang waktu aku di Tempo ia menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Tempo. Kata kuncinya: Tidak salah, jika berita tersebut memenuhi kaidah jurnalistik yang baik.
Lantas, wartawan tadi yang telah memberitakan hasil investigasinya bagaimana?
“Dia harus membuat koreksi atas beritanya,” begitu kata Azul, panggilan kami ke Arif.
Apakah beritanya bisa dijerat pidana?
Lagi-lagi, kata Azul, tidak.
Saya menukil ini dari UU PERS:

Wartawan Indonesia segera mencabut, meralat, dan memperbaiki berita yang keliru dan tidak akurat disertai dengan permintaan maaf kepada pembaca, pendengar, dan atau pemirsa.

– Pasal 10 Kode Etik Jurnalistik

Tafsir: a. Segera berarti tindakan dalam waktu secepat mungkin, baik karena ada maupun tidak ada teguran dari pihak luar; b. Permintaan maaf disampaikan apabila kesalahan terkait dengan substansi pokok.

Penghapusan Berita

Katakanlah berita “Anton diduga membunuh Lisa” dimuat di media online, maka pemilik media (atau redakturnya) bisa dengan gampang melakukan penghapusan atau take down. Tapi, tunggu dulu. Tidak semudah itu.
Secara etika, menurut Azul, media online tidak bisa sembarangan menghapus berita. Ada hal-hal yang harus diperhatikan. Kira-kira begini:

Berita yang sudah dipublikasikan tidak dapat dicabut karena alasan penyensoran dari pihak luar redaksi, kecuali terkait masalah SARA, kesusilaan, masa depan anak, pengalaman traumatik korban atau berdasarkan pertimbangan khusus lain yang ditetapkan Dewan Pers. Media siber lain wajib mengikuti pencabutan kutipan berita dari media asal yang telah dicabut. Pencabutan berita wajib disertai dengan alasan pencabutan dan diumumkan ke publik.

– Peraturan Dewan Pers tentang Pedoman Pemberitaan Media Siber

Sebagai wartawan online, kami melakukan doorstop, transkrip wawancara, hingga upload. Yang mungkin kami lupa: Melakukan revisi, atas hasil kerja jurnalistik maupun atas diri sendiri.
Salam.
Wartawan
kumparan.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares